Pengabdian Dosen Poltekkes Riau: Cegah Penyakit Jantung Lewat Edukasi Bilingual

Kampar –Tim dosen Politeknik Kesehatan Kemenkes Riau yang diketuai oleh Falinda Oktariani, M.Pd. bersama anggota tim Yessi Marlina, S.Gz., MPH dan Dewi Rahayu, S.P., M.Si. melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) di SMP Negeri 1 Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Kegiatan inovatif ini tidak hanya berfokus pada edukasi gizi seimbang untuk pencegahan penyakit jantung, tetapi juga meningkatkan kompetensi bahasa Inggris siswa melalui pendekatan bilingual.

SMPN 1 Kampar yang berlokasi di Jl. Raya Bangkinang KM 50 dikelilingi warung jajanan dalam radius 200 meter, dengan 70% menjual gorengan dan 20% minuman manis yang berisiko terhadap kesehatan jantung. Hasil observasi tim menunjukkan sebagian besar siswa membeli jajanan tidak sehat saat istirahat. Kondisi ini mendorong tim pengabmas menghadirkan solusi berbasis edukasi dan media pembelajaran inovatif.

“Kami ingin memberikan kontribusi nyata dengan pendekatan code-switching yang memungkinkan siswa belajar terminologi gizi dalam dua bahasa sekaligus. Ini memanfaatkan periode optimal usia 12-15 tahun untuk pembelajaran bahasa kedua sekaligus pembentukan kebiasaan hidup sehat,” ujar Falinda Oktariani, M.Pd., Ketua Tim Pengabmas.

Poster Bilingual: Solusi Edukasi Inovatif

Melalui program ini, tim pengabmas mengembangkan poster bilingual ukuran A1 yang menampilkan konsep “Isi Piringku/My Plate for Healthy Heart“, 4 Pilar Gizi Seimbang dalam dwibahasa, serta panduan batasan konsumsi harian (minyak maksimal 5 sendok makan, garam maksimal 5 gram, air minimal 8 gelas). Poster dilengkapi visual transformasi kebiasaan: minuman manis ke air putih, gorengan ke buah segar seperti alpukat, dan anjuran mengurangi screen time untuk lebih banyak aktivitas fisik.

Poster dipasang secara permanen di tiga lokasi strategis: kantin sekolah, koridor kelas VIII, dan ruang UKS, sehingga siswa dapat terpapar pesan gizi seimbang secara kontinyu.

“Poster ini dirancang dengan mempertimbangkan visual hierarchy dan color coding agar mudah dipahami remaja. Penempatan di kantin sangat strategis karena menjadi point-of-decision saat siswa akan membeli jajanan,” jelas Yessi Marlina, S.Gz., MPH, anggota tim yang fokus pada konten gizi.

Metode Pembelajaran Interaktif

Sebagai bagian dari metode pembelajaran, tim membimbing 30 siswa kelas VIII menggunakan presentasi PowerPoint code-switching dengan rasio 60% Bahasa Indonesia dan 40% Bahasa Inggris. Siswa belajar istilah seperti ‘balanced nutrition’, ‘healthy plate’, ‘cardiovascular disease prevention’, ‘vegetables’, ‘fruits’, dan ‘physical activity’ sambil memahami konsepnya dalam bahasa Indonesia.

Metode pembelajaran mencakup ice breaking “Nutrition Vocabulary Bingo”, group activities “Create Your Own My Plate”, role play “At the Canteen”, dan vocabulary relay race yang membuat siswa antusias dan engaged. Pendekatan gamifikasi ini terbukti efektif meningkatkan partisipasi aktif.

“Kami menggunakan interactive demonstration dengan real food models seperti nasi, ayam, sayur, dan buah untuk memvisualisasikan konsep Isi Piringku. Siswa juga shocked saat melihat demonstrasi 5 sendok makan minyak dan kandungan garam dalam gorengan favorit mereka,” ungkap Dewi Rahayu, S.P., M.Si., anggota tim yang bertanggung jawab atas dokumentasi dan media pembelajaran.

Hasil Menggembirakan: Peningkatan Signifikan

Hasil pre-test terhadap 30 siswa kelas VIII menunjukkan pengetahuan gizi seimbang masih rendah, dengan hampir separuh siswa berada di kategori kurang. Penguasaan kosakata bahasa Inggris terkait gizi juga sangat terbatas rata-rata siswa hanya mengenal sekitar seperlima dari istilah-istilah kesehatan dasar.

Namun, setelah mengikuti edukasi bilingual, hasil post-test dua minggu kemudian menunjukkan peningkatan luar biasa: pengetahuan gizi meningkat hampir 30%, melampaui target yang ditetapkan. Lebih dari dua pertiga siswa kini berada di kategori baik, naik drastis dari sebelumnya yang hanya seperempat.

Lebih menggembirakan lagi, penguasaan vocabulary bahasa Inggris meningkat hampir empat kali lipat. Sebagian besar siswa kini mampu memahami dan menggunakan istilah-istilah gizi dalam bahasa Inggris. Yang paling membanggakan, mereka masih mengingat dengan baik kosakata yang dipelajari bahkan setelah dua minggu bukti bahwa pembelajaran benar-benar bermakna.

“Peningkatan ini sangat signifikan dan menunjukkan pendekatan bilingual terbukti efektif menghasilkan manfaat ganda: meningkatkan literasi kesehatan sekaligus kompetensi bahasa Inggris,” papar Falinda Oktariani.

Tingkat partisipasi juga sangat tinggi. Hampir semua siswa aktif terlibat dalam diskusi, sebagian besar berani menggunakan kosakata bahasa Inggris baru secara spontan, dan seluruh siswa menyelesaikan semua aktivitas pembelajaran dengan antusias. Yang menarik, terlihat solidaritas antar siswa mereka yang lebih mahir bahasa Inggris membantu teman-temannya.

Penulis: TIM Pengabmas Dosen Poltekkes Kemenkes Riau