Bayangkan sebuah rumah. Rumah pertama, tempat kita mengambil napas pertama. Langit-langitnya adalah langit biru yang terbentang, dinding-dindingnya adalah pepohonan yang tegak, dan lantainya adalah tanah yang subur. Di rumah ini, sungai-sungai mengalirkan air minum, kebun-kebunnya menghidangkan makanan, dan udaranya membersihkan setiap hela napas. Ini adalah alam, rumah kita yang sejati.
Namun, dengarkan baik-baik. Ada desah yang berat di rumah ini. Sebuah desahan yang perlahan menjadi erangan. Rumah kita sedang terluka. Di balik gemerlap zaman, kita menyaksikan luka-luka itu menganga: udara yang sesak oleh asap, sungai-sungai yang berubah warna menjadi kelabu dan penuh beban, hutan-hutan yang meranggas meninggalkan bekas-bekas pahit, dan kehangatan bumi yang semakin menggigit. Kehilangan yang pelan namun pasti hilangnya kicauan burung-burung tertentu, hilangnya jernihnya mata air. Semua ini adalah bahasa dari sebuah ketidakseimbangan, sebuah hubungan yang retak antara penghuni dan rumahnya.
Manusia, sang penghuni, sering kali lupa. Setiap kenyamanan yang dinikmati dari secangkir kopi hangat hingga layar ponsel yang menyala berasal dari denyut nadi alam yang tak pernah berhenti bekerja. Namun, sebagai balasannya, rumah ini dibebani oleh sampah yang tak terurai, digunduli tanpa ampun, dan dieksploitasi hingga kelelahan. Ingatan akan hutan yang lebat dan sungai yang bening pun perlahan memudar, hanya menjadi cerita di buku atau kenangan orang tua.
Di Indonesia, luka ini bukan lagi lukisan di kanvas yang jauh. Ia nyata dan terasa. Banjir bandang yang menerjang permukiman bukan hanya soal hujan yang deras, tetapi juga tentang sungai yang sakit, tanah yang tak lagi bisa menahan air, dan ruang hijau yang telah tergantikan beton. Bencana-bencana itu datang seperti tamu tak diundang, namun sejatinya, mereka adalah pesan-pesan yang terabaikan dari alam yang sudah terlalu lama menahan sakit.
Namun, di tengah keprihatinan ini, ada narasi lain yang berbisik. Sebuah narasi yang tertulis dalam kitab suci, menawarkan pondasi moral. Al-Qur’an, melalui ayat-ayatnya, menggambarkan alam sebagai ayat-ayat Tuhan yang terbentang, penuh tanda dan pelajaran. Memahaminya memerlukan dua cara pandang: membaca teksnya secara langsung, dan menyelami konteksnya yang dalam. Dengan pendekatan ganda ini, pesan tentang kelestarian tidak terjebak di masa lalu, tetapi hidup kembali untuk menjawab tantangan zaman. Agama dan ilmu pengetahuan bukanlah dua kutub yang berseberangan, melainkan dua sahabat yang bisa berjalan beriringan untuk mendiagnosis luka-luka bumi dan meracik obatnya.
Solusi untuk rumah yang luka ini tidak tunggal. Ia memerlukan perawatan dari segala penjuru. Dari dalam diri, dengan menumbuhkan rasa cinta dan tanggung jawab sebagai khalifah, pengelola yang baik. Dari dunia pendidikan, dengan menanamkan nilai-nilai kelestarian sejak dini melalui sentuhan langsung dengan tanah dan air. Dari kebijakan, dengan keberpihakan yang tegas pada keberlanjutan. Dan dari agama, dengan mengingatkan bahwa merawat alam adalah bagian dari ibadah, bentuk syukur atas karunia yang tak terhitung.
Alam, rumah kita yang pertama ini, tidak meminta banyak. Ia hanya merindukan keseimbangan. Ia rindu pada penghuni yang mendengarkan, bukan hanya mengambil; yang merawat, bukan hanya menikmati. Jika kita bisa menyembuhkan retak hubungan ini, maka rumah kita akan kembali bernapas lega, dan kedamaian yang sejati antara manusia, langit, bumi, dan segala isinya perlahan akan pulih kembali.
Penulis :
Ermanita Permatasari
Elly Purwanti
Jerico Dos Reis Da Costa
Imam Syaikhoni Ali
Nur Salim
Afiliasi :
STAI Darussalam, Lampung
