KOPISODA di Marga Sekampung: Ruang Sosial Keilmuan di Tengah Tradisi Nahdliyin

Kegiatan KOPISODA Lampung (Komunitas Kyai Soleh Darat ) di Marga Sekampung tidak dapat dipahami semata sebagai forum informal berbasis pertemuan rutin. Ia merupakan representasi dari ruang sosial-keilmuan khas tradisi Nahdlatul Ulama, di mana transmisi pengetahuan, nilai, dan pengalaman berlangsung secara dialogis, cair, serta berakar kuat pada kearifan lokal dengan seduhan kopi hangat dan Jus Alpokat.

Perjalanan menuju lokasi kegiatan Kantor MWCNU Marga Sekampung yang ditempuh pada malam hari, melewati jalur lintas kecamatan dengan kondisi jalan yang tidak sepenuhnya ideal, menjadi metafora penting bagi dinamika gerakan intelektual berbasis komunitas. Akses yang terbatas, infrastruktur yang minim, dan kondisi geografis yang menantang tidak serta-merta menghambat semangat keilmuan. Justru dalam keterbatasan itulah, kesungguhan partisipasi dan militansi intelektual warga Nahdliyin diuji dan dibentuk.

Setibanya di lokasi, suasana keakraban langsung terasa. Sambutan hangat dan sajian kopi bukan sekadar bentuk keramahan, melainkan simbol pembuka dialog. Dalam konteks sosiologi pengetahuan, kopi berfungsi sebagai medium sosial yang meruntuhkan sekat-sekat hierarkis, memungkinkan terjadinya pertukaran gagasan secara setara antara generasi muda dan para tokoh sepuh.

Hadirnya para sesepuh MWCNU seperti Kyai Abdul Ghofur, Ketua MWCNU Marga Sekampung berseta jajarannya dalam forum KOPISODA Lampung memperkuat fungsi ngaji sebagai ruang transfer nilai lintas generasi.

Ngaji kali ini di awali dengan pembukaan yang disampaikan oleh KH. Said Fauzi serta dilanjutkan dengan pembacaan Kitab Faidur Rahman oleh Dr. KH. Moh. Fahimul Fuad, M. Sy.

Ngaji yang berlangsung tidak berhenti pada tataran normatif-teologis, tetapi merambah pada refleksi sosial, pengalaman praksis, dan pembacaan kontekstual atas realitas masyarakat. Pola ini menunjukkan bahwa tradisi ngaji di lingkungan NU memiliki karakter adaptif mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar tradisionalnya.

Menariknya, kehadiran ikon lokal seperti jus alpukat Siger khas Marga Sekampung turut memberi warna pada diskursus yang berlangsung. Unsur ini menegaskan bahwa ruang keilmuan tidak pernah steril dari konteks budaya. Justru identitas lokal menjadi energi tambahan yang menguatkan rasa memiliki terhadap forum tersebut. KOPISODA, dalam hal ini, berfungsi sebagai simpul kultural yang menyatukan pengetahuan, tradisi, dan solidaritas sosial.

Secara konseptual, KOPISODA Lampung dapat dipandang sebagai model penguatan literasi keagamaan dan sosial berbasis komunitas. Ia menawarkan alternatif atas pola kajian formal yang sering kali elitis dan berjarak dengan realitas akar rumput. Melalui pendekatan santai namun substansial, KOPISODA menghadirkan praktik keilmuan yang inklusif, partisipatif, dan relevan dengan kebutuhan umat.

Dengan demikian, KOPISODA di Marga Sekampung bukan sekadar agenda rutin, melainkan praktik sosial-intelektual yang layak dipertahankan dan direplikasi. Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi wacana keagamaan, forum semacam ini menjadi pengingat bahwa kekuatan tradisi bukan terletak pada romantisme masa lalu, melainkan pada kemampuannya untuk terus hidup, berdialog, dan memberi makna bagi masa kini.

Penulis :

M. Dani Habibi